Mau dibawa Kemana Indonesia?
Dakwah Media - Presiden Jokowi telah melakukan berbagai kunjungan ke berbagai negara, maupun menerima kunjungan AS, Cina dan berbagai negara-negara investor. Pemerintah mengizinkan masuknya pemodal asing ke negeri ini, masuk ke segala bidang dari infrastruktur sampai investasi sumber daya alam(SDA). Investasi asing bisa mencabut umat dari kepemilikan SDA yang luar biasa tersebut dan menenggelamkan mereka dalam lumpur kemiskinan.
Kepemimpinan yang tidak efektif merupakan salah satu alasan utama mengapa Indonesia hanya mengalami sedikit pertumbuhan ekonomi, atau tidak mampu keluar dari cengkeraman ekonomi ketergantungan. Selain karena adanya faktor uang dalam jumlah banyak, kesengsaraan rakyat diperparah oleh pemerintah yang tidak memiliki itikad politik untuk keluar dari sistem kapitalisme yang menyebabkan kemiskinan dan kemerosotan. Ironis, kita menghadapi masalah ekonomi yang akut, padahal kita kaya dengan SDA, tapi para penguasanya hampir tidak melakukan terobosan besar untuk mengembangkan perekonomian negara. Ancaman terbesar negeri ini sangat jelas, yaitu kapitalisme dan imperialisme modern yang dibuka pintunya oleh penguasa terhadap negeri ini.
Rakyat Indonesia merasakan dengan kuat bahwa sistem ekonomi dan politik Indonesia hanya mengabdi demi kepentingan kekuatan kapitalis dan tidak mengabdi kepada kepentingan rakyat Indonesia. Rakyat merasakan bahwa sistem kapitalisme telah gagal total dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan mereka. Rakyat telah putus harapan terhadap sistem ini dan mereka sudah mulai meninggalkannya.
Rakyat Indonesia semakin paham hakikat kondisi politik yang direkayasa dan yang tidak direkayasa di Indonesia. Terkait perlindungan terhadap urusan-urusan rakyat, maka adalah musibah bahwa masyarakat tidak merasakan perubahan apapun dari sistem sekular sekarang. Tidak ada perubahan dalam masalah kemiskinan, inflasi, kerusakan moral, penguasaan kekayaan pada segelintir orang, kenaikan harga-harga dan kenaikan pajak atas masyarakat. Tidak ada perubahan dalam hal pengelolaan SDA yang dilakukan perusahaan-perusahaan multi nasional dan termasuk hegemoni Amerika. Tidak ada penghentian implementasi kebijakan eksploitatif lembaga-lembaga internasional, dan musibah-musibah lainnya.
Budaya koruptif, kertumbuhan kemiskinan, konflik, dan kriminalitas, secara intrinsik terkait dengan budaya ketergantungan ekonomi yang berhasil ditanamkan oleh Barat ke negeri-negeri Muslim, dunia Ketiga, termasuk Indonesia. Hal ini dilakukan dengan sejumlah langkah, seperti manipulasi mata uang, pemanfaatan pinjaman negara, dan legalisasi perusahaan multinasional yang menidakstabilkan dan menghancurkan aktivitas perekonomian negeri-negeri target imperialism Barat.
Amerika ingin mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada sistem yang telah membuat rakyat sengsara. Amerika ingin menghancurkan elemen kekuatan rakyat yang menjadi ancaman paling potensial yang bisa meruntuhkan dominasinya. Amerika dengan segenap kekuatannya berupaya mempersempit jarak antara sistem sekular dengan masyarakat di Indonesia. Amerika berharap bisa meyakinkan masyarakat bahwa sistem komprador sekarang mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan mereka sehingga kepercayaan masyarakat kepada sistem kembali ada. Amerika juga ingin menghapus perasaan masyarakat bahwa mereka (rakyat) tidak berdaulat di dalam sistem sekarang dan bahwa yang sesungguhnya berdaulat adalah kepentingan-kepentingan Amerika.
Amerika menganggap Islam yang terepresentasi di dalam ide Khilafah Islamiyah sebagai musuh strategis bagi barat. AS juga khawatir perasaan islami yang mengarah kepada kebangkitan Islam politik pada diri kaum Muslim makin menguat. Amerika telah meluaskan keberadaan militernya di dunia Islam. Pada saat yang sama, Amerika juga berupaya merubah bentuk masyarakat dan landskap politik dalam negeri di dunia Islam. Amerika dengan kuat mempromosikan ide sekularisme di negeri-negeri Islam. Hal itu dilakukan dengan jalan mendukung lembaga-lembaga sekular agar makin aktif secara politik di dunia Islam. Dalam perangnya melawan Islam saat ini Amerika berharap lembaga-lembaga sekular itu bisa mengambil tongkat kepemimpinan di dalam wilayah politik. Karena itu Amerika sangat konsent agar aktivis politik, individu-individu dan lembaga-lembaga sekular yang loyal kapada Amerika bisa memimpin aktivitas-aktivitas politik.
Di Barat sendiri, sistem Kapitalisme telah gagal total dalam menyelesaikan berbagai permasalahan. Lalu bagaimana mungkin sistem yang sudah kolaps akan bisa menciptakan Indonesia yang sejahtera? Indonesia tidak akan mampu menjadi ekonomi raksasa dunia selama berada dalam kungkungan sistem demokrasi dan penerapan sistem kapitalisme. Ideologi ini melalui nilai-nilai positivisme dalam ekonomi dan kepentingan egois telah menghasilkan eksploitasi para penguasa, pengusaha dan minoritas orang kaya untuk mengubah dunia ini menjadi sebuah surga bagi mereka, sementara hak dan nilai-nilai orang lain hilang sia-sia.
Kapitalisme memandang masalah ekonomi sebagai ‘adanya kelangkaan sumber daya dan tidak terbatasnya kebutuhan’. Jadi, Kapitalisme berusaha mengatasi masalah ekonomi dengan memaksimalkan produksi guna menghasilkan kekayaan, yang selanjutnya akan memenuhi sebagian besar, jika tidak semua, kebutuhan manusia. Kapitalisme memiliki premis bahwa kebutuhan setiap individu tidak dapat dipenuhi, dan karena itu kemiskinan akan selalu ada berbarengan dengan kekayaan. Dengan demikian, masalah kemiskinan, ketunawismaan, dan kelaparan akan selalu menjadi ancaman laten bagi setiap masyarakat Kapitalis. Karena itu, kemiskinan bukanlah karakter negeri-negeri Muslim dan Dunia Ketiga saja, melainkan juga karakter negara-negara Barat.
Sesungguhnya satu-satunya sistem yang mampu menyelesaikan berbagai permasalahan masyarakat baik ekonomi, sosial, politik, pendidikan, masalah dalam negeri dan luar negeri Indonesia adalah sistem yang telah diturunkan oleh Allah SWT, Zat Pencipta Seluruh Manusia. Yaitu sistem yang diterapkan oleh Daulah Khilafah. Potensi luar biasa Indonesia hanya bisa terwujud dalam sistem khilafah. Khilafah akan menerapkan sistem ekonomi Islam, mengatur sumber daya energi itu, menjaganya sebagai sumber daya milik umum, memastikan produktivitas penggunaan sektor energi yang luar biasa ini, serta menghasilkan manfaat maksimal dalam menjaga urusan umat.
Islam tidak menghendaki rezim yang berkuasa yang menelantarkan rakyat Indonesia. Khilafah Islamiyah bukanlah negara polisi yang memerintah dengan tangan besi. Khilafah tidak melakukan pemiskinan dan penindasan terhadap rakyatnya yang telah dimuliakan oleh Allah Pencipta mereka SWT. Karena itu Khilafah mendapatkan kepercayaan semua rakyatnya tanpa memandang ras atau mazhab. Disamping itu, sistem Khilafah dalam Islam merupakan sistem kesatuan, memerintah seluruh rakyat tanpa diskriminasi, tanpa memandang apakah mereka mayoritas atau minoritas.
Islam adalah rahmat untuk seluruh manusia tanpa memandang ras mereka. Umat telah dilebur dalam satu wadah di bawah Khilafah. Rakyat non muslim mengusung loyalitas kepada Daulah al-Khilafah disebabkan keadilan dan jaminan terhadap hak-hak mereka. Jadi, mau dibawa kemanakah Indonesia? Sejahtera dengan Islam atau sengsara dengan kapitalisme-demokrasi?
Oleh: Umar Syarifudin (dir. Pusat Kajian Data-Analisis)
Kepemimpinan yang tidak efektif merupakan salah satu alasan utama mengapa Indonesia hanya mengalami sedikit pertumbuhan ekonomi, atau tidak mampu keluar dari cengkeraman ekonomi ketergantungan. Selain karena adanya faktor uang dalam jumlah banyak, kesengsaraan rakyat diperparah oleh pemerintah yang tidak memiliki itikad politik untuk keluar dari sistem kapitalisme yang menyebabkan kemiskinan dan kemerosotan. Ironis, kita menghadapi masalah ekonomi yang akut, padahal kita kaya dengan SDA, tapi para penguasanya hampir tidak melakukan terobosan besar untuk mengembangkan perekonomian negara. Ancaman terbesar negeri ini sangat jelas, yaitu kapitalisme dan imperialisme modern yang dibuka pintunya oleh penguasa terhadap negeri ini.
Rakyat Indonesia merasakan dengan kuat bahwa sistem ekonomi dan politik Indonesia hanya mengabdi demi kepentingan kekuatan kapitalis dan tidak mengabdi kepada kepentingan rakyat Indonesia. Rakyat merasakan bahwa sistem kapitalisme telah gagal total dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan mereka. Rakyat telah putus harapan terhadap sistem ini dan mereka sudah mulai meninggalkannya.
Rakyat Indonesia semakin paham hakikat kondisi politik yang direkayasa dan yang tidak direkayasa di Indonesia. Terkait perlindungan terhadap urusan-urusan rakyat, maka adalah musibah bahwa masyarakat tidak merasakan perubahan apapun dari sistem sekular sekarang. Tidak ada perubahan dalam masalah kemiskinan, inflasi, kerusakan moral, penguasaan kekayaan pada segelintir orang, kenaikan harga-harga dan kenaikan pajak atas masyarakat. Tidak ada perubahan dalam hal pengelolaan SDA yang dilakukan perusahaan-perusahaan multi nasional dan termasuk hegemoni Amerika. Tidak ada penghentian implementasi kebijakan eksploitatif lembaga-lembaga internasional, dan musibah-musibah lainnya.
Budaya koruptif, kertumbuhan kemiskinan, konflik, dan kriminalitas, secara intrinsik terkait dengan budaya ketergantungan ekonomi yang berhasil ditanamkan oleh Barat ke negeri-negeri Muslim, dunia Ketiga, termasuk Indonesia. Hal ini dilakukan dengan sejumlah langkah, seperti manipulasi mata uang, pemanfaatan pinjaman negara, dan legalisasi perusahaan multinasional yang menidakstabilkan dan menghancurkan aktivitas perekonomian negeri-negeri target imperialism Barat.
Amerika ingin mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada sistem yang telah membuat rakyat sengsara. Amerika ingin menghancurkan elemen kekuatan rakyat yang menjadi ancaman paling potensial yang bisa meruntuhkan dominasinya. Amerika dengan segenap kekuatannya berupaya mempersempit jarak antara sistem sekular dengan masyarakat di Indonesia. Amerika berharap bisa meyakinkan masyarakat bahwa sistem komprador sekarang mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan mereka sehingga kepercayaan masyarakat kepada sistem kembali ada. Amerika juga ingin menghapus perasaan masyarakat bahwa mereka (rakyat) tidak berdaulat di dalam sistem sekarang dan bahwa yang sesungguhnya berdaulat adalah kepentingan-kepentingan Amerika.
Amerika menganggap Islam yang terepresentasi di dalam ide Khilafah Islamiyah sebagai musuh strategis bagi barat. AS juga khawatir perasaan islami yang mengarah kepada kebangkitan Islam politik pada diri kaum Muslim makin menguat. Amerika telah meluaskan keberadaan militernya di dunia Islam. Pada saat yang sama, Amerika juga berupaya merubah bentuk masyarakat dan landskap politik dalam negeri di dunia Islam. Amerika dengan kuat mempromosikan ide sekularisme di negeri-negeri Islam. Hal itu dilakukan dengan jalan mendukung lembaga-lembaga sekular agar makin aktif secara politik di dunia Islam. Dalam perangnya melawan Islam saat ini Amerika berharap lembaga-lembaga sekular itu bisa mengambil tongkat kepemimpinan di dalam wilayah politik. Karena itu Amerika sangat konsent agar aktivis politik, individu-individu dan lembaga-lembaga sekular yang loyal kapada Amerika bisa memimpin aktivitas-aktivitas politik.
Di Barat sendiri, sistem Kapitalisme telah gagal total dalam menyelesaikan berbagai permasalahan. Lalu bagaimana mungkin sistem yang sudah kolaps akan bisa menciptakan Indonesia yang sejahtera? Indonesia tidak akan mampu menjadi ekonomi raksasa dunia selama berada dalam kungkungan sistem demokrasi dan penerapan sistem kapitalisme. Ideologi ini melalui nilai-nilai positivisme dalam ekonomi dan kepentingan egois telah menghasilkan eksploitasi para penguasa, pengusaha dan minoritas orang kaya untuk mengubah dunia ini menjadi sebuah surga bagi mereka, sementara hak dan nilai-nilai orang lain hilang sia-sia.
Kapitalisme memandang masalah ekonomi sebagai ‘adanya kelangkaan sumber daya dan tidak terbatasnya kebutuhan’. Jadi, Kapitalisme berusaha mengatasi masalah ekonomi dengan memaksimalkan produksi guna menghasilkan kekayaan, yang selanjutnya akan memenuhi sebagian besar, jika tidak semua, kebutuhan manusia. Kapitalisme memiliki premis bahwa kebutuhan setiap individu tidak dapat dipenuhi, dan karena itu kemiskinan akan selalu ada berbarengan dengan kekayaan. Dengan demikian, masalah kemiskinan, ketunawismaan, dan kelaparan akan selalu menjadi ancaman laten bagi setiap masyarakat Kapitalis. Karena itu, kemiskinan bukanlah karakter negeri-negeri Muslim dan Dunia Ketiga saja, melainkan juga karakter negara-negara Barat.
Sesungguhnya satu-satunya sistem yang mampu menyelesaikan berbagai permasalahan masyarakat baik ekonomi, sosial, politik, pendidikan, masalah dalam negeri dan luar negeri Indonesia adalah sistem yang telah diturunkan oleh Allah SWT, Zat Pencipta Seluruh Manusia. Yaitu sistem yang diterapkan oleh Daulah Khilafah. Potensi luar biasa Indonesia hanya bisa terwujud dalam sistem khilafah. Khilafah akan menerapkan sistem ekonomi Islam, mengatur sumber daya energi itu, menjaganya sebagai sumber daya milik umum, memastikan produktivitas penggunaan sektor energi yang luar biasa ini, serta menghasilkan manfaat maksimal dalam menjaga urusan umat.
Islam tidak menghendaki rezim yang berkuasa yang menelantarkan rakyat Indonesia. Khilafah Islamiyah bukanlah negara polisi yang memerintah dengan tangan besi. Khilafah tidak melakukan pemiskinan dan penindasan terhadap rakyatnya yang telah dimuliakan oleh Allah Pencipta mereka SWT. Karena itu Khilafah mendapatkan kepercayaan semua rakyatnya tanpa memandang ras atau mazhab. Disamping itu, sistem Khilafah dalam Islam merupakan sistem kesatuan, memerintah seluruh rakyat tanpa diskriminasi, tanpa memandang apakah mereka mayoritas atau minoritas.
Islam adalah rahmat untuk seluruh manusia tanpa memandang ras mereka. Umat telah dilebur dalam satu wadah di bawah Khilafah. Rakyat non muslim mengusung loyalitas kepada Daulah al-Khilafah disebabkan keadilan dan jaminan terhadap hak-hak mereka. Jadi, mau dibawa kemanakah Indonesia? Sejahtera dengan Islam atau sengsara dengan kapitalisme-demokrasi?
Oleh: Umar Syarifudin (dir. Pusat Kajian Data-Analisis)
0 Response to "Mau dibawa Kemana Indonesia?"
Post a Comment