Adakah “Harga Mati” dalam Konsep Buatan Manusia?
Dakwah Media - Sebagai seorang muslim, seharusnya kita menyadari bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang terikat dengan nilai. Segala sesuatu dalam kehidupannya selalu diukur dan dibatasi dengan nilai-nilai, pada akhirnya kesehariannya pun dipenuhi dengan aktivas menilai, dinilai, dan saling menilai.
Berbeda dengan binatang yang hanya mempunyai sisi nafsiyah (nafsu), manusia yang juga mempunyai sisi aqliyah (akal) justru tak bisa sebebas binatang dalam menjalani kehidupannya. Bagi seekor kucing, cukup baginya untuk mencari ikan terdekat lalu melahapnya ketika lapar.
Namun manusia tak bisa berlaku seperti itu, ketika lapar dia tidak bisa langsung menyantap sepiring nasi yang terhidang di hadapannya. Harus ada pertanyaan-pertanyaan yang dijawab terlebih dahulu, semisal “dari mana sepiring nasi ini?”, “Bolehkah saya menyantapnya?”, “Bagaimana agar saya bisa menyantapnya?”
Di antara nilai mendasar yang pasti digunakan manusia adalah baik dan benar. Disadari atau tidak manusia senantiasa memberikan apresiasi berlebih terhadap yang paling baik dan yang paling benar. Hampir mustahil rasanya menemukan sebuah kampung yang memberikan penghormatan secara sadar terhadap warganya yang paling jahat.
Permasalahannya adalah penilaian akan baik dan benar sangat dipengaruhi oleh jumlah informasi serta tingkat pemahaman seseorang. Dan tidak pernah ada dua orang manusia yang tingkat pemahamannya sama atau setara, maka bisa dipastikan pendefinisian akan baik dan benar pun menjadi berbeda-beda.
Bagi seorang aktivis HTI, ceramah Ustadz Felix Siauw sudah pasti terdengar menyejukkan dan penuh informasi-informasi yang mencerahkan. Namun bagi seorang Endro Supriyadi, Ketua GP Ansor Sragen ternyata terdengar merusak dan membahayakan maka harus dibubarkan. Di mata aktivis HTI, wacana pendirian khilafah adalah baik dan benar sehingga harus diupayakan dan diperjuangkan, namun di mata seorang Menkopolhukam Wiranto ternyata adalah wacana yang buruk dan salah maka harus dilarang.
Bayangkan betapa kacaunya kehidupan ketika masing-masing mempunyai standar nilai yang berbeda seperti itu. Karena itu diperlukan sebuah standar nilai yang bisa dan harus disepakati semua pihak, namun di sisi lain mustahil manusia mampu menyusun hal sebesar itu, pasti ada pihak-pihak terdholimi yang dipaksa untuk taat tanpa boleh bersuara.
Maka dari itulah, Allah SWT menurunkan Al Qur’an sebagai sekumpulan pedoman bagi manusia dalam memandang dan menjalani kehidupan tanpa harus menzalimi manusia lainnya. Seorang muslim ketika menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman, maka dia tak lagi memperturutkan perasaannya dalam menilai baik buruknya sesuatu serta benar salahnya suatu perbuatan.
Seseorang ketika telah menjadikan Al Qur’an sebagai standar nilai, maka cara pandangnya terhadap dunia menjadi unik. Contohnya, seseorang yang bersedekah tidak serta merta disebut baik dan benar, bersedekah bisa menjadi salah dan tidak baik ketika menggunakan harta haram ataupun disertai kesombongan ketika menyerahkannya. Sebaliknya seseorang yang memakan bangkai juga tidak serta merta dikatakan melakukan perbuatan buruk, memakan bangkai justru bisa menjadi baik dan benar ketika dia memakannya karena kondisi darurat dan demi menghindarkan diri dari kematian.
Begitupun dengan hal-hal yang lebih serius semisal pembunuhan dan peperangan. Pembunuhan menjadi baik dan benar ketika memang diperintahkan dalam Al Qur’an, misalnya dalam rangka qishash atau pembalasan terhadap pembunuhan yang disengaja. Peperangan juga menjadi baik dan benar ketika diniatkan fi sabilillah dan yang diperangi adalah pihak-pihak yang dalam Al Qur’an diperintahkan untuk diperangi.
Hal-hal yang tampak indah di mata kita semisal perdamaian pun bisa menjadi salah dan buruk ketika tidak sesuai dengan Al Qur’an. Misalnya, demi perdamaian kita harus menyembah sesembahan selain Allah SWT, demi perdamaian kita harus berpartisipasi dalam ritual keagamaan agama lain, dan demi perdamaian kita harus berpartisipasi dalam menistakan agama kita sendiri.
Dan menggunakan standar nilai seperti itu bukan berarti mengabaikan sisi kemanusiaan diri kita, namun justru memperluas dan membuatnya semakin unik. Kemanusiaan tak lagi sebatas menangis dan berdoa untuk segelintir orang yang lecet-lecet akibat serangan bom ISIS. Namun kemanusiaan juga berbicara tentang bagaimana memulihkan manusia dan membawanya kepada keadaan yang lebih baik.
Karena itu Al Qur’an memperkenalkan konsep infaq, dakwah dan jihad. Di mana infaq berfungsi untuk memenuhi kebutuhan manusia-manusia yang kekurangan dan memerlukan bantuan, lalu dakwah berfungsi untuk menyebarkan standar-standar nilai Al Qur’an yang tidak mendholimi siapapun (baca: rahmatan lil alamin), dan jihad berfungsi untuk menghilangkan gangguan dari pihak-pihak yang berupaya menghalangi tercapainya kondisi yang rahmatan lil alamin tersebut.
Begitulah seharusnya seorang muslim, baik dan benarnya hanya berdasarkan Al Qur’an. Karena hanya yang berdasarkan Al Qur’an saja lah yang akan diapresiasi oleh Allah SWT dalam kehidupan setelah kematian kelak. Standar-standar nilai buatan manusia tidak akan mendatangkan manfaat sedikitpun bagi kehidupan setelah kematian meskipun dulunya diembel-embeli dengan “harga mati” sekalipun.
Penulis : Rusydan Abdul Hadi
Berbeda dengan binatang yang hanya mempunyai sisi nafsiyah (nafsu), manusia yang juga mempunyai sisi aqliyah (akal) justru tak bisa sebebas binatang dalam menjalani kehidupannya. Bagi seekor kucing, cukup baginya untuk mencari ikan terdekat lalu melahapnya ketika lapar.
Namun manusia tak bisa berlaku seperti itu, ketika lapar dia tidak bisa langsung menyantap sepiring nasi yang terhidang di hadapannya. Harus ada pertanyaan-pertanyaan yang dijawab terlebih dahulu, semisal “dari mana sepiring nasi ini?”, “Bolehkah saya menyantapnya?”, “Bagaimana agar saya bisa menyantapnya?”
Di antara nilai mendasar yang pasti digunakan manusia adalah baik dan benar. Disadari atau tidak manusia senantiasa memberikan apresiasi berlebih terhadap yang paling baik dan yang paling benar. Hampir mustahil rasanya menemukan sebuah kampung yang memberikan penghormatan secara sadar terhadap warganya yang paling jahat.
Permasalahannya adalah penilaian akan baik dan benar sangat dipengaruhi oleh jumlah informasi serta tingkat pemahaman seseorang. Dan tidak pernah ada dua orang manusia yang tingkat pemahamannya sama atau setara, maka bisa dipastikan pendefinisian akan baik dan benar pun menjadi berbeda-beda.
Bagi seorang aktivis HTI, ceramah Ustadz Felix Siauw sudah pasti terdengar menyejukkan dan penuh informasi-informasi yang mencerahkan. Namun bagi seorang Endro Supriyadi, Ketua GP Ansor Sragen ternyata terdengar merusak dan membahayakan maka harus dibubarkan. Di mata aktivis HTI, wacana pendirian khilafah adalah baik dan benar sehingga harus diupayakan dan diperjuangkan, namun di mata seorang Menkopolhukam Wiranto ternyata adalah wacana yang buruk dan salah maka harus dilarang.
Bayangkan betapa kacaunya kehidupan ketika masing-masing mempunyai standar nilai yang berbeda seperti itu. Karena itu diperlukan sebuah standar nilai yang bisa dan harus disepakati semua pihak, namun di sisi lain mustahil manusia mampu menyusun hal sebesar itu, pasti ada pihak-pihak terdholimi yang dipaksa untuk taat tanpa boleh bersuara.
Maka dari itulah, Allah SWT menurunkan Al Qur’an sebagai sekumpulan pedoman bagi manusia dalam memandang dan menjalani kehidupan tanpa harus menzalimi manusia lainnya. Seorang muslim ketika menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman, maka dia tak lagi memperturutkan perasaannya dalam menilai baik buruknya sesuatu serta benar salahnya suatu perbuatan.
Seseorang ketika telah menjadikan Al Qur’an sebagai standar nilai, maka cara pandangnya terhadap dunia menjadi unik. Contohnya, seseorang yang bersedekah tidak serta merta disebut baik dan benar, bersedekah bisa menjadi salah dan tidak baik ketika menggunakan harta haram ataupun disertai kesombongan ketika menyerahkannya. Sebaliknya seseorang yang memakan bangkai juga tidak serta merta dikatakan melakukan perbuatan buruk, memakan bangkai justru bisa menjadi baik dan benar ketika dia memakannya karena kondisi darurat dan demi menghindarkan diri dari kematian.
Begitupun dengan hal-hal yang lebih serius semisal pembunuhan dan peperangan. Pembunuhan menjadi baik dan benar ketika memang diperintahkan dalam Al Qur’an, misalnya dalam rangka qishash atau pembalasan terhadap pembunuhan yang disengaja. Peperangan juga menjadi baik dan benar ketika diniatkan fi sabilillah dan yang diperangi adalah pihak-pihak yang dalam Al Qur’an diperintahkan untuk diperangi.
Hal-hal yang tampak indah di mata kita semisal perdamaian pun bisa menjadi salah dan buruk ketika tidak sesuai dengan Al Qur’an. Misalnya, demi perdamaian kita harus menyembah sesembahan selain Allah SWT, demi perdamaian kita harus berpartisipasi dalam ritual keagamaan agama lain, dan demi perdamaian kita harus berpartisipasi dalam menistakan agama kita sendiri.
Dan menggunakan standar nilai seperti itu bukan berarti mengabaikan sisi kemanusiaan diri kita, namun justru memperluas dan membuatnya semakin unik. Kemanusiaan tak lagi sebatas menangis dan berdoa untuk segelintir orang yang lecet-lecet akibat serangan bom ISIS. Namun kemanusiaan juga berbicara tentang bagaimana memulihkan manusia dan membawanya kepada keadaan yang lebih baik.
Karena itu Al Qur’an memperkenalkan konsep infaq, dakwah dan jihad. Di mana infaq berfungsi untuk memenuhi kebutuhan manusia-manusia yang kekurangan dan memerlukan bantuan, lalu dakwah berfungsi untuk menyebarkan standar-standar nilai Al Qur’an yang tidak mendholimi siapapun (baca: rahmatan lil alamin), dan jihad berfungsi untuk menghilangkan gangguan dari pihak-pihak yang berupaya menghalangi tercapainya kondisi yang rahmatan lil alamin tersebut.
Begitulah seharusnya seorang muslim, baik dan benarnya hanya berdasarkan Al Qur’an. Karena hanya yang berdasarkan Al Qur’an saja lah yang akan diapresiasi oleh Allah SWT dalam kehidupan setelah kematian kelak. Standar-standar nilai buatan manusia tidak akan mendatangkan manfaat sedikitpun bagi kehidupan setelah kematian meskipun dulunya diembel-embeli dengan “harga mati” sekalipun.
Penulis : Rusydan Abdul Hadi
0 Response to "Adakah “Harga Mati” dalam Konsep Buatan Manusia?"
Post a Comment